Langsung ke konten utama

PENDIDIKAN. Seberapa Yakin Anda tentang Keberadaannya ?


       
         
Pada orang yang telah memilih untuk bergerak pada bidang pendidikan, tentunya memiliki visi dan misi yang sama yaitu ingin memajukan pendidikan itu walaupun pada ruang lingkup yang berbeda. Tidak mudah memang memahami apa makna pendidikan itu sendiri, sebab pendidikan memiliki multitafsir dalam pelaksanaannya. Ditengah ramainya terpilihnya  Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Kerja jilid 2, banyak simpang siur yang terjadi. Namun, ada yang perlu kita tandai bahwa sesuatu yang baru justru memberikan warna bagi dunia pendidikan itu sendiri agar memiliki cross-culture dengan bidang lain. 
Tidak hanya sumber daya manusia yang nantinya bersaing ketat di dalam dunia nyata tetapi juga teknologi pada era 4.0 yang nantinya akan memfasilitasi pendidikan itu sendiri. Sebab, pendidikan merupakan ruang dimana seseorang dapat menemukan cakrawala dalam kehidupan belajarnya. Dari sanalah pendidikan harus berangkat pada sesuatu yang baru dan terkini yang dapat mendukung dari arah mana  sanggup memaknai pendidikan itu sendiri. Namun, harus diperhatikan memang, dalam berbicara mengenai pendidikan berarti harus memahami apa saja yang berada di dalamnya seperti kurikulum, strategi belajar, teori belajar bahkan ruang lingkup pembelajaran sebagai tempat untuk keberlangsungan pendidikan  itu sendiri. Sejenak mari kita tengok kembali dari segi filsafat esensialisme, eksistensialisme, serta humanisme dalam ilmu kependidikan bahwa menambah inovasi dalam pendidikan tidak hanya dilihat pada satu sisi saja. Sehingga tidak menutup kemungkinan pendidikan merupakan salah satu bidang yang memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dan sangat berpengaruh dengan berbagai hal yang mendukung atau bahkan mengancam keberadaannya.
Oke, mungkin kali ini tidak akan saya bahas bagaimana kompleksitas pendidikan itu seperti apa, melainkan sedikit mengulas bagaimana senangnya jika berbaur dengan para pendidik dari berbagai lini pendidikan. Semoga nantinya menteri yang baru tidak segan untuk terjun langsung dan berbaur diberbagai lembaga penyelenggara pendidikan. Dari berbagai keterlaksanaan pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), lalu kemudian Perguruan Tinggi. Bahkan tidak hanya itu, penggerak dan pelaksana pendidikan bisa juga kita temui pada komunitas belajar, sanggar belajar atau pusat kegiatan belajar masyarakat seperti pendidikan kejar paket. Ya... meskipun saya sendiri belum memiliki kecenderungan untuk memilih dari salah satu lini tersebut, tetapi nampaknya saya lebih senang ketika mencoba memahami dengan mengikuti alur cerita yang beberapa diantaranya telah mengalaminya. Seperti dengan mengikuti kegiatan seperti Komunitas Guru Belajar (KGB). kegiatan ini mewadahi seluruh guru untuk dapat bertukar pikir bagaimana sebaiknya membuat pendidikan agar lebih inspiratif dan bermakna bagi siapapun. Jadi, bergabung pada komunitas guru belajar selain menambah ilmu, juga dapat menambah relasi dalam mengembangkan pendidikan. Dari komunitas ini, nantinya akan ada pertemuan akbar loh, yaitu pada acara TPN atau Temu Pendidik Nusantara, wah bisa dibayangkan bukan? Akan bertemu dari berbagai daerah dari sabang sampai merauke akan berkumpul menjadi satu dalam satu wadah. Semoga dari sini, nantinya kita dapat memaknai bahwa rebahan/ gabut/ horizntal body battery saving mode bukan menjadi alasan untuk tetap meginspirasi orang lain. Apalagi didukung dengan program kerja menteri baru yang mungkin lebih inovatif. Semoga Pendidikan di Indonesia semakin maju dan dapat menjadi contoh bagi negara lain.

Dedikasi untuk negeriku tercinta Indonesia dan acara Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2019.
#belajardiTPN2019




_rhw_


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Literasi Itu Apa Sih?

Banyak yang mengangap bahwa belajar tentang literasi hanya sekadar membaca dan menulis, padahal tidak hanya kedua hal itu saja, tetapi dalam merancang pembelajaran literasi yang bermakna adalah yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selama beberapa hari belajar di Temu Pendidik Nusantara (TPN) yang diselenggarakan di Kampus Guru Cikal, saya mendapat banyak pengalaman dari para guru hebat negeri ini. Mereka bercerita masing-masing tentang keadaan di sekolah mereka yang kemudian kita rumuskan bersama permasalahan serta jalan keluar agar murid yang mereka didik dapat memaknai apa yang mereka pelajari. Mulai dari kelas Kemerdekaan, yaitu guru berbagi sekaligus mendapatkan inspirasi dari sekolah lain agar nantinya strategi pembelajaran dapat diterapkan di sekolah mereka. kebetulan waktu itu saya mengkuti kelas kemerdekaan dengan judul kelas “Strategi Pengajaran Literasi Bermakna dengan Pendekatan Seni dan Budaya” , di sana kami belajar tentang belajar kosa kata melalui seni tari, dicov...